Selasa, 01 Agustus 2017

GAGAL PUNCAK. Lanjutannya : Tengah Malam Mendaki Gunung SINDORO.

Karena cuaca langit saat itu berawan, kita jadi kurang beruntung untuk mendapatkan pemandangan sunrise yang keren di sekitaran pos 3 Gunung Sindoro. Tapi pemandangan gagahnya Gunung Sumbing didepan kita cukup membayar perjuangan kita mendaki gunung di tengah malam.


Selesai membangun tenda, sekarang waktunya membangun gairah baru, setelah sebelumnya merasa lelah, letih, dan lesu gak ada gairah sama sekali, makanya kita wajib bangun gairah baru. Bukan foto-foto, bukan pacaran sama Mala, BUKAN! tapi MAKAN!. Ya... makan. Karena bagi orang gendut : Makan itu bisa menciptakan gairah baru, makanya saya langsung cari-cari makanan. Diawali dengan mencari makanan di tas sendiri tapi gak ada, kemudian saya buka tas kecil yang dibawa Mala, juga gak ada makanan. Saya pikir mungkin yang bawa makanan Turis atau yang lainnya, tapi ternyata gak ada yang bawa makanan. Kampret!!

"Tadi di Basecamp emang gak belanja makanan?" Tanya saya.

"Gak ada, cuma beli air mineral sama kopi dan susu" Jawab Dwi.

"Perasaan kan tadi di basecamp beli mie" Lanjut saya.

"Kan udah dimasak sebelum mendaki. Bahkan kamu yang makan paling banyak"Lanjut Mala.

Kemudian saya diem, seolah-olah habis melakukan kesalahan yang besar.

Alamakkk! Jadi kita mendaki di Sindoro ini gak bawa makanan sedikit pun. Kalau bagi Mala, Dwi, dan Beti makan itu gak penting, yang penting foto sepuas-puasnya itu bisa melupakan rasa lapar. Sedangkan bagi Turis yang penting air. Nah kalau saya kan gak bisa hidup kalau gak makan. Mana mau ke puncak segala. Masa gak makan dulu.

Ini bener-bener pendakian paling gak waras (Tolong jangan diikuti), hanya karena sudah mepet banget waktunya untuk mendaki gunung nyampe makanan aja gak dibawa. Padahal makan mie digunung itu lebih lezat dari pada makan nasi padang di warteg. Yang patut disalahkan adalah macetnya jalanan arah Purwokerto kemarin, membuat semua rencana jadi berantakan.

"Jadi puncak gak mas?" Tanya mas Galih.

"Gak usah deh mas, gak ada asupan gizi, sisa tenaga ini di pake buat turun aja" jawab saya dan disetujui sama Turis dan anak-anak cewek lainnya.

"Iya sih mas, kita kesini karena waktu mendakinya yang terlalu malam bahkan sudah dini hari" lanjut mas galih.

Kemudian Mas Osa menambahkan katanya, kalau mau bermalam di Sindoro idealnya nyampe pos 3 itu maksimal jam 10 malem, tujuannya biar sebelum jam 12 sudah pada tidur buat mempersiapkan summit. Nah kita, jam 1:30 baru mau naik. Hehe mungkin lain kali kita kesini lagi dan naik ke puncak Sindoro.
Selesai berkemas-kemas untuk persiapan turun, kemudian kita tutup dengan sesi pemotretan terakhir. Setelah itu. Pulang.  

Kalau di liat-liat, ketiga cewek ini kuat juga. Padahal mereka gak ada yang tidur semaleman. Hanya dengan foto-foto saja mereka jadi mendadak kuat.
Mas Osa, Dwi, Mala, Beti, Mas Galih


~~sk~~

Bebatuan demi bebatuan kita lewatin, pohon demi pohon yang tumbang juga kita lewatin sampai di pos 2 kita lewati dengan kondisi kaki saya mulai terasa sakit antara kram dan sedikit terkilir pas loncat tadi, dengkul juga mulai terasa sakit karena lebih banyak bekerja untuk mengerem. Entah disisa perjalanan ini saya sanggup untuk jalan kaki atau tidak.

Saya kembali mikir untung tadi gak jadi ke puncak. Misal tadi jadi ke puncak, gimana nanti pas pulang.  

Sedangkan kondisi teman-teman yang lain seperti Turis, Mas Osa, Mas Galih sih masih sehat-sehat aja. Suruh naik lagi mungkin mereka masih sanggup, terus Mala juga gak memperlihatkan kalau dia capek, justru Mala yang terusan nyemangatin saya tadi. Jadi malu. Dan yang aneh itu Beti dan Dwi. Tadi pas awal-awal turun Beti sang petualang sejati mulai menunjukan kelasnya sebagai pendaki dengan jam terbang tinggi karena dia jalan paling depan dan tidak mau istirahat, sedangkan Dwi di awal-awal pas turun sudah beberapa kali minta berhenti dan merengek kesakitan.

Tapi apa yang terjadi selepas istirahat 10 menit di tengah perjalanan menuju pos 2 tadi, Dwi jadi makin kuat sedangkan Beti makin loyo kayak gak ada gairahnya sama sekali. Setelah ditanya apa alasannya kata Dwi kalau habis foto-foto semangatnya jadi nambah, kalau Beti katanya habis tenaganya. Haha mereka memang kocak-kocak sifatnya, makanya saya seneng banget kalau keluyuran bareng mereka. Cuma sayangnya kita kurang 3 anak yang mungkin saja bisa nambah rasa bahagianya.
Formasi lengkap saat ke Gunung Prau
~~sk~~

Lanjut turun sampai di Pos 1 kaki mulai gak karuan, tapi saya tetap paksakan untuk terus jalan walaupun pelan-pelan. Mas Osa sih menyuruh kita untuk naik ojeg saja dari pos 1 sampai Basecamp, tapi kita gak mau demi melihat pemandangan lebih lama. Alasan yang tidak masuk akal sih karena kondisi kaki saja sudah terasa pengin banget berhenti melangkah.

Selepas keluar dari hutan, kini kita memasuki area kebun kol yang cukup luas. Dan posisi saya sudah jauh meninggalkan yang lainnya. Tapi ini bukan berarti saya paling cepat, melainkan karena mereka sering berhenti untuk foto-foto, sedangkan saya pengin cepet-cepet sampai di basecamp dengan langkah kaki yang lemah.


Lalu saya denger dari arah belakang ada mobil pengangkut kol yang tadi saya lewati dan sepertinya sekarang sedang jalan mengarah saya, kemudian saya melipir dipinggiran jalan untuk kasih ruang mobil bak terbuka tersebut. Namun setelah melintas disamping saya ada suara cewek dan cowok berbarengan menyapa saya, dan sepertinya saya kenal dengan suara tersebut.

"Duluan ya mas"

Pas saya liat.

Kampret! Ternyata mereka yang naik mobil.

"Ayo mas naik" kata Mas Osa sambil menjulurkan tangan.

Tapi pas saya mau naik, ini kaki gak bisa ngangkat tinggi.

"Aduh gak bisa mas"

"Langsung loncat aja ris" usul Turis.

Akhirnya saya loncat dengan tangan sebagai tumpuhannya, tapi kaki masih belum kuat naik sampai akhirnya Turis menarik kaki saya. Tapi pas berhasil naik, ini kaki dua-dua kram.

"Mas-mas tolong mas" teriak saya karena emang sakit banget.

Sepanjang naik mobil saya selalu merintih sambil mikir apa yang terjadi dengan tubuh ini, karena dulu ke Gunung Prau gak separah ini kakinya. Ya memang prau lebih pendek dan lebih ringan, tapi kan sebelum mendaki saya olahraga sepedaan dulu. Pasti gara-gara gak makan tadi.

Gak sampai 5 menit akhirnya kita semua sampai di basecamp dengan selamat.
Sebuah pengalaman yang luar biasa dan pembelajaran yang teramat berharga bagi kita bila ingin mendaki lagi harus disiapkan sebuah rencana yang benar-benar matang, maksudnya harus ada plan B atau C atau D bila rencana awalnya gagal total.

Dan lucunya, derita saya gak sampai disitu saya. Mau shalat gak bisa sujud, akhirnya shalatnya duduk, selesai shalat gak bisa berdiri karena ini dengkul bener-bener lemes banget. Terus naik tangga yang ada di pintu bus juga gak bisa, kemudian yang paling nelangsa pas sampai di terminal purwokerto perut saya mules dan disitu gak ada wc duduk, bisa dibayangkan betapa susahnya saya pas nongkrong. Saya nyampe tobat gak mau naik gunung lagi. Tapi pas semua rasa sakitnya hilang malah pengin naik lagi. Haha dasar yah gunung emang suka bikin kangen. Semoga saya dan Keluarga Sering Keluyuran bisa kembali mendaki bareng lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar