Minggu, 21 Juli 2019

5 Hal Yang Saya Lakukan Setelah Di Tinggal Nikah

Mungkin ini bukan artikel tentang traveling, tapi saya harus tulis ini karena saya habis di tinggal nikah sama partner travel saya selama 6 tahun belakangan. Bagi para pembaca blog saya dari awal mungkin tau dia siapa. Yah dia itu Mala, pacar sekaligus partner travel terbaik saya.


Kondisi saya cukup kacau waktu itu. Apalagi menjelang hari pernikahan Mala, justru saya yang gelisah. Hati saya seolah menolak untuk tetap tenang. Bahkan ngerinya, saya jadi takut sendirian. Karena kalau saya sendirian, otak saya gak bisa jauh-jauh mikirin Mala yang sebentar lagi akan jadi istri orang lain, kayak rela tapi gak rela, kayak ikhlas tapi gak ikhlas. 2 hari saya gak pulang kerumah, sehari menjelang akad nikah dan sehari setelah akad nikah. Alasannya ya itu tadi, takut sendirian. Saya menginap di rumah teman. Benar-benar stres setengah mati, sampai gak bisa berfikir secara normal.

Saya jadi tau rasanya di tinggal nikah.

Kemudian saya kembali merantau dengan perasaan masih campur aduk, tapi masih bisa tenang. Dan mulailah melakukan hal yang sekiranya bisa dengan cepat melupakan tragedi di tinggal nikah.

1) Bekerja lebih dari biasanya.

Biasanya, saya males kalau di suruh lembur. Apalagi kerja 15 jam dari pagi sampai malam. Tapi satu minggu awal mulai bekerja, saya terima semua tawaran untuk lembur. Teman kerja banyak yang bilang saya gila karena gak kasihan sama badan. Memang sih efeknya sakit, tapi rasa sakitnya masih kalah sama sakitnya di tinggal nikah, makanya saya masih bisa berdiri dan kembali lembur lagi.


2) Nongkrong sampe ngantuk.

Ketika pulang kerja atau pulang lembur sekiranya jam 10 malam, saya gak langsung pulang ke kontrakan. Saya biasanya nongkrong dulu di angkringan depan kontrakan sampai ngantuk, sampai habis beberapa gelas susu jahe. Dan saat ngantuk datang, maka saya pulang dan langsung tidur tanpa sedikitpun mikirin Mala.

3) Download Aplikasi Tantan.

Hahaha ini terdengar gila sih, tapi emang ini yang saya lakukan atas saran teman saya. Tujuannya bukan mencari jodoh, tapi untuk hiburan semata. Dan begitu saya install aplikasi Tantan, saya jadi tau betapa banyaknya manusia-manusia jomblo di luar sana yang miskin asmara sampai harus buang-buang waktu buat mainan Tantan.


4) Mancing.

3 hingga 4 bulan belakangan saya sempat jenuh dengan kegiatan mancing, mungkin karena belum ketemu tempat baru. Tapi herannya setelah mengalami tragedi di tinggal nikah, saya jadi kembali senang memancing. Mungkin efek dari sudah terbiasa jarang di kontrakan, makanya setiap libur kerja saya lebih milih mancing. Dan itu mengasyikkan.

5) Kembali Traveling.

Hampir dua tahun, gak pernah traveling. Saya yang katanya pengin jadi travel blog tapi kenyataannya gak pernah traveling. Makanya tulisan saya tentang traveling di blog gak sebanyak dulu, sekarang jarang, bahkan tidak pernah. Itu di mulai ketika renggangnya hubungan saya dan Mala, serta saya kembali merantau. Nah ketika saya di tinggal nikah, saya ingin mencoba meneruskan keinginan saya dan Mala dulu yaitu keliling Indonesia tapi sendirian. Saat mudik lebaran kemarin, saya punya rencana mudik yang berbeda, yaitu singgah di beberapa kota terlebih dulu sebelum sampai ke Tegal. Rencananya saya mau mampir dulu ke Bogor, lalu ke Sukabumi, lanjut lagi ke Bandung, dan terakhir ke Cirebon. Tapi sayangnya bapak saya sakitnya kambuh harus di bawa ke rumah sakit, jadi saya harus cepat pulang. Oke gak pa pa gagal. Sudah biasa. Dan di lain waktu akhirnya saya kembali bisa traveling, terakhir kemarin saya jalan ke Bogor. Ditunggu ceritanya di sini.


Mungkin ini hal-hal yang saya lakukan ketika di tinggal nikah, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Selasa, 28 Mei 2019

Malam Mingguan di Purwakarta

Apakah kalian punya geng atau kelompok bermain sejak masih kecil? Pasti rata-rata punya. Termasuk saya. Punya geng sejak kecil itu mengasyikkan tiap kali berkumpul, karena yang akan dibahas pasti kelucuan-kelucuan yang pernah kita alami. Cuma sayangnya kita jarang kumpul. Dan alasannya sama juga kayak Keluarga Sering Keluyuran yang jarang kumpul karena kesibukannya masing-masing. Tapi ini masih mending ketimbang keluarga traveling saya yang kiranya sudah tahunan gak pernah kumpul lengkap. Mendingnya apa? Mendingnya ya karena anggota geng kita masih satu desa jadi minimal ada satu waktu dalam setahun kita bisa kumpul bareng yaitu saat lebaran.


Di grup WhatsApp salah satu dari kami ada yang menyinggung gini "Kita masih sendiri aja jarang kumpul bareng, apalagi kalau udah pada punya istri dan anak" terus ada lagi yang bilang "Masa sih kita kumpul bareng pas lebaran doang". Dan disitulah mulai tahun 2018 kita bikin acara tahunan untuk kumpul entah itu jalan-jalan, bakar ayam, main game atau apapun yang penting kumpul selain di hari lebaran. Lantas kita memulai pilihan siapa dulu yang akan menjadi tuan rumah. Karena ini baru diadakan, maka yang jadi tuan rumah yang tinggal dan bekerja di Tegal, yaitu Fahmi. Dan semua temen yang saat itu sedang merantau di haruskan datang. Dan Alhamdulillah acaranya lancar tepat di tahun baru 2018. Dan di tahun 2019 ini yang menjadi tuan rumah temen yang sedang merantau di Purwakarta. Jadi nantinya dari berbagai penjuru dari Depok, Tanggerang, terus saya dari Jakarta, ada lagi dari Bekasi, Cikarang, dan dari Tegal pun semuanya ikut ngumpul di Purwakarta untuk lanjutan acara kumpul bareng selain di hari lebaran.

Persiapan saya ke Purwakarta gak terlalu ribet karena saya bukan tuan rumah, jadi saya cuma menyiapkan surat tidak masuk kerja alias cuti dihari Sabtu karena ditempat kerja saya hari Sabtu masih jam kerja biasa. Dan Alhamdulillah saya diijinkan. Maka berangkatlah Sabtu subuh dan ketemuan bareng Idham yang dari Tanggerang. Kita ketemu di stasiun kalideres dan berangkat bareng menuju Purwakarta.

Perjalanan lumayan lama dari Kalideres ke Purwakarta memakan waktu 5 jam. Dan di sana kita dijemput oleh tuan rumah dan ternyata, saya dan Idham menjadi rombongan pertama yang sampai.

1 jam kemudian rombongan dari Cikarang Amar dan Septian sampe dengan membawa banyak ikan karena nantinya mau kita bakar-bakar. Terus sekitar jam 5 sore rombongan dari Tegal (Fahmi dan Muiz) datang, terus disusul Amal yang dari Bekasi sendirian, sampai akhirnya Afi yang dari Depok baru sampai dijam 8 malam karena dia harus kuliah dulu paginya.

Seneng rasanya bisa kumpul bareng mereka, apalagi kumpulnya bukan di Tegal.


Sebelum acara bakar-bakaran dimulai, karena kata tuan rumah enaknya bakar ikannya pas tengah malem karena sepi gak ada orang berlalu-lalang dijalan. Jadi ya sebelumnya kita main game sebagai pengisi malam mingguannya kita di Purwakarta. Kita sengaja gak keluar ke tempat nongkrong atau ke obyek wisata. Karena kita lebih seneng bikin ramai tempat, bukan ke tempat ramai. Makanya kita dari Sabtu siang hingga Minggu pagi kita ngumpul aja seru-seruan di kost-an temen. Tanpa ada yang tidur.

Siang sangat cepat beranjak. Saya dan Idham pun pamit pulang duluan, namun sebelum kita ada yang pulang, terlebih dulu kita membahas tuan rumah acara tahun depan. Dan saya mengajukan diri sebagai tuan rumah di Jakarta. Tapi ini belum pasti, kalau sampai akhir tahun tidak ada persaingan untuk pemilihan tuan rumah maka dipastikan acara selanjutnya di Jakarta.

Sabtu, 20 April 2019

Keluarga Sering Keluyuran (Kabar Terbaru)


Diawal saya menulis blog, saya menceritakan keluarga baru saya dalam dunia traveling, atau lebih asyiknya disebut keluarga traveling. Namun saya namai mereka dengan Keluarga Sering Keluyuran. Jika ada yang tanya kenapa kalian bisa disebut keluarga? Jawabannya ada di postingan pertama saya, karena di tulisan ini saya lebih menceritakan kabar terbaru dari kami : Turis, Saya, Rudi, Trio, Dwi, Mala, Wiwi, dan Beti.

Rasanya sudah cukup lama kita tidak berkumpul dengan personil lengkap. Terakhir ada acara ngumpul kemarin tahun baru dan itupun tidak ada saya karena tidak pulang ke Tegal. Terakhir saya ketemu pasangan Turis-Dwi di tahun 2017, sedangkan sama Trio dan Beti lebih lama lagi. Terus ketemu Rudi dan Wiwi mungkin baru tahun kemarin karena kita pernah nonton bioskop bareng di Tanggerang. Intinya, saya sudah jarang ketemu mereka. Dan saya kangen banget jalan lagi kayak dulu. Maka dari itu akhir-akhir ini saya sering tanya kabar mereka, dan berikut kabar terbarunya mereka.


Pertama) kita sekarang bukan berenam lagi, tapi berdelapan.

Ada dua anggota keluarga baru yang bernama Beti si traveler sejati dan Trio si manusia paling pe-de. Sebenernya mereka sudah pernah saya ceritakan di postingan mendaki Gunung Prau dan beberapa postingan lainnya juga ada mereka. Mereka sudah lama bergabung dengan keluarga kami, cuma baru ini saja saya ceritakan. Kabar terbarunya Beti saat ini buka usaha sendiri tujuannya biar kalau pengin traveling atau mendaki gunung tidak perlu repot meminta izin ke atasan.


Kedua) kabar terbarunya Turis dan Dwi.

Di postingan awal status mereka masih bertunangan, dan sekarang mereka sudah menikah dan mempunyai anak yang super gemes, namanya Syafiq (Cowok). Meskipun sudah mempunyai anak, mereka masih sering jalan-jalan dengan keluarga kecilnya. Bukan dengan keluarga sering keluyuran, karena saya akui sekarang kita susah untuk kembali traveling bareng berdelapan. Semoga di tahun 2019 ini bisa lah jalan bareng lagi.


Ketiga) kabar terbarunya Rudi dan Wiwi.

Seperti yang saya bilang di postingan awal kalau hubungan mereka bakal awet karena saya melihatnya sangat cocok dan serasi. Mungkin dalam waktu dekat mereka bakal tunangan. Amin, jangan sampai kisah saya terulang sama mereka. Untuk soal traveling, mereka lumayan sering juga jalan bareng berdua. Kabarnya mereka habis ke Bogor, Bandung dan beberapa tempat wisata lainnya.


Keempat) kabar terbarunya Mala.

Harusnya sih ditulisnya kabar terbarunya Mala dan Rizki, cuma karena kita sudah berpisah maka kabar terbarunya saya ada di plot selanjutnya.

Kabarnya Mala sekarang sudah bertunangan dengan orang Pemalang, namanya Windarto, dan habis lebaran ini mereka akan menikah. Jangan nanya kenapa hubungannya berakhir, karena saya tidak akan menceritakannya disini. Cuma yang ingin saya bahas itu tentang postingan awal bahwa saya pernah berkata kalau hubungan saya dengan Mala gak bakal putus. Saya emang sombong dan lupa kalau jodoh itu ada di tangan tuhan. Karena sekuatnya kita mempertahankan hubungan kalau bukan jodohnya mau gimana lagi. Jadi untuk itu saya minta maaf atas perkataan saya dulu. Dan soal traveling, Mala lebih seringnya pergi ke tempat-tempat terdekat kayak di Pantai Larangan. Mungkin sibuk persiapan mau menikah.

Kelima) kabar terbarunya saya.

Kesibukan saya cuma kerja, tidur, kerja lagi, tidur lagi. Sangat monoton. Apalagi setelah putus dengan Mala, hari-hari saya selanjutnya sangat membosankan. Mulai ada keinginan untuk jalan dan menulis beberapa minggu belakangan. Itu juga karena saya sudah berdamai dengan hati saya yang sebelumnya bisa dikatakan sedang menjadi manusia paling galau di Indonesia. Semoga saya bisa menemukan jati diri saya yang hilang dengan kembali keluyuran.


Keenam) Syafiq dan Windarto.

Sebenernya sih plot tentang "kabar saya" pengin jadi plot yang terakhir, cuma kayaknya perlu deh ditambahin satu lagi buat calon anggota baru Keluarga Sering Keluyuran : Syafiq dan Windarto.

Secara tidak langsung ya Syafiq sudah menjadi anggota keluarga kita, karena si gemes ini kan anaknya Turis dan Dwi. Cuma karena belum liburan bareng jadi saya kategorikan sebagai calon. Terus Windarto itu calon suaminya Mala. Kalau sudah menikah ya pasti tiap kali kita mengadakan traveling bareng mau gak mau dia ikut. Balik lagi ke saya, apakah saya akan mampu melihat mereka bergandengan tangan ketika sedang jalan bareng sekeluarga. Jawabnya ada di hati saya. Ha ha ha... Tapi kayaknya seru traveling bareng mantan dan suaminya mantan.

°°°°°

Mungkin sampai disini dulu menceritakan kabar terbarunya personil Keluarga Sering Keluyuran. Saya sangat berharap banget di 2019 ini kita kompak liburan bareng.

Minggu, 07 April 2019

Kembali Nge-blog

Senja dari atas kontrakan


"Percayalah padaku aku pun rindu kamu (menulis)...

Ku akan pulang (kembali)...

Melepas semua, kerinduan...

Yang terpendam..."


Sepenggal lirik lagu dari dewa 19 untuk mewakili isi hati saya saat ini. Namun yang saya rindukan dalam lagu itu bukanlah sesosok pacar atau selingkuhan apalagi selingkuhannya teman, tapi yang saya rindukan disini adalah menulis. Entah itu menulis di buku, di medsos, di dinding rumah orang serta menulis di blog. Karena sudah hampir dua tahun lamanya saya meninggalkan tulis-menulis ataupun baca-membaca. Bukannya sok sibuk, tapi kerjaan saya yang sekarang ini sangat menguras fisik. Jadi kegiatan yang paling menyenangkan ya tidur. Jalan-jalan juga paling kalau ada tanggal merah selain hari minggu. Itupun jalan-jalannya juga kedepan beli nasi di warteg.

Selain di blog, saya juga punya akun wattpad untuk media menulis. Cuma saya lebih kangen menulis di blog. Kalau saja blog ini bisa bicara layaknya manusia, mungkin dia akan nanya berbagai hal seperti sedang di interview dalam seleksi pencarian karyawan baru.

"Nama kamu siapa?" Tanya blog.

"Saya Rizki. Lupa ya"

"Oh iya maaf lupa" Lanjutnya. "Kamu kemana aja selama ini Rizki?"

"Gak kemana-mana kok blog, cuma sibuk kerja"

"Alasan klasik. Bilang aja aku sudah gak nafsuin" Si Blog mulai marah.

"Enggak! sumpah!"

"Bohong! Atau jangan-jangan kamu punya selingkuhan"

"Kamu selalu di hatiku blog"

Maaf ini dialognya lebih ke-dua-abg yang sedang berantem, bukan kayak orang sedang interview. Ah lupakan.

Memang susah menjaga agar konsisten dalam ngeblog. Apalagi orang yang baru belajar menulis kayak saya. Ditambah lagi kurangnya fasilitas buat ngeblog karena laptopnya saya tinggal di Tegal.

"Memangnya kamu sekarang lagi dimana?" Tanya blog lagi.

Jadi, 2 tahun belakangan ini, ada keniatan untuk kembali merantau dan bekerja diluar Kota Tegal sambil mencari tempat-tempat hiburan baru untuk bahan tulisan di blog, tapi ternyata begitu diterima bekerja di pabrik tali rapiah yang berlokasi di Cengkareng, Jakarta Barat, malah makin malas buat jalan-jalan apalagi ngeblog. Punya HP cuma buat nyari gosip-gosip artis terbaru. Alhasil blog jadi terlantar, kusam, penuh debu, banyak sarang laba-laba kayak rumah kosong tanpa penghuni. Hari-hari saya pun diisi cuma buat kerja, tidur, kerja lagi, tidur lagi, begitu-begitu terus selama ini. Tapi ada sih beberapa minggu sekali saya pergi memancing di muara dekat PIK (Pantai Indah Kapuk), mungkin nanti saya ceritakan keseruan saya dan teman kontrakan mancing dan bikin club mancing.

"Terus kenapa kamu balik lagi ngeblog?"

Pertama, kangen sama seperti lagunya Dewa 19 tadi.

Kedua, mulai tergerak buat nulis lagi, karena ada dorongan dari temen biar tulisan saya makin berkembang lagi.

Ketiga, saya habis beli gadget baru yang memungkinkan saya untuk posting di blog setiap waktu.

Keempat, saya sudah gak punya teman curhat lagi karena pada akhirnya saya dan Mala harus putus.

Kesepuluh, terasa lebih keren berbagi cerita perjalanan lewat blog dari pada lewat medsos lainnya.

Ya semoga saja mulai hari ini, mulai bulan ini, dan mulai tahun ini bisa konsisten menulis lagi. Minimal sebulan DUA cerita yang saya tulis. Amin.

Selasa, 03 Oktober 2017

Edisi Sepedaan IV : Menjajal Naik Sepeda ke PAI (Pantai Alam Indah)

Setelah sukses naik sepeda ke Obyek wisata Waduk Cacaban dan ke Pantai Larangan beberapa bulan yang lalu sebelum mendaki ke Sindoro. Bahkan agenda sepedaan tersebut juga termasuk bagian dari pemanasan sebelum mendaki. Tapi kali ini, tidak sedang pemanasan mau mendaki lagi melainkan ketagihan ingin bersepeda lagi dengan jarak yang lebih jauh. Dan rute sepedaan yang saya pilih kali ini ke Pantai Alam Indah. Jaraknya sekitar 16 km dari rumah saya.


Seperti yang saya bilang di edisi-edisi sepedaan sebelumnya, jarak sepedaan yang saya tempuh masih tergolong kelas bawah bagi para pesepeda yang sudah puluhan bahkan sampai ratusan kilometer ditempuh, tapi bagi saya sepedaan dengan jarak 16 km ini merupakan sebuah kebanggaan bagi saya mengingat berat badannya saya masih diatas rata-rata dan jarang ada orang gendut bersepeda sejauh ini, selain karena fisik yang gendut saya juga biasanya ke PAI (Singkatannya Pantai Alam Indah) itu pake motor tapi kali ini naik sepeda.

Saya sangat menikmati bersepeda pagi-pagi melintasi jalur terpadat kedua di Tegal setelah jalur pantura. Tapi banyak juga yang bersepeda dari berbagai kelompok/komunitas, ada juga beberapa sepasang kekasih yang lagi pacaran sambil mengayun sepeda, bahkan ada juga yang sambil selfie.

Namun kebanyakan mereka para pesepeda yang mengarah ke utara biasanya berkumpul di alun-alun tegal yang memang disetiap minggu pagi diadakan cfd (car free day), sedangkan yang mengarah ke selatan biasanya mereka berkumpul didepan Monumen GBN. Jadi karena saya mau ke pantai dan mengarah ke utara, bisa dipastikan setelah melewati alun-alun saya sendirian bersepeda ke arah utara karena tujuan saya masih jauh ke Pantai Alam Indah.

Sedikit pun saya tidak merasa capek, justru seneng banget bisa bersepeda pagi-pagi sejauh ini. Dan tepat 1 jam sampailah saya digerbang masuk Objek Wisata Pantai Alam Indah.

Suasana pada pagi ini di PAI sangat ramai, apalagi sekarang Pantai Alam Indah ini sudah di renovasi sekeren mungkin. Kayak tulisan ini, dulu gak ada.

Sumber Foto : Warta Bahari

Terus disepanjang bibir pantai dibuatkan tempat duduk panjang serta lantai selebar sekitar 3 meteran dengan dilengkapi keramik sehingga kalau menghadap ke selatan tidak seperti berada di pantai, tapi lebih mirip kayak di taman. Keren.



Kegiatan pengunjung di PAI juga beragam, selain berfoto-foto, disini juga banyak segerombolan anak muda yang bermain bola di tanah yang lapang dan berpasir tentunya, lalu ada juga sekumpulan orang dewasa yang sedang latihan ilmu beladiri di pinggir pantai, kalau saya hanya mengamati perubahan penampilan pantai ini saja.

Kemudian saya mampir ke salah satu warung untuk sarapan pagi di Pantai Alam Indah dengan memakan Kupat/Ketupat Glabed.

Ketupat Glabed ini makanan khas kota Tegal. biasanya kalau makan ketupat glabed ini dibarengi dengan sate kerang. Kenapa dinamakan Glabed karena kata Glabed sendiri sebenarnya berasal dari ucapan orang Tegal bila mengekspresikan kuah kuning yang kental.

Sumber Foto : www.ditegal.com
Selesai sarapan dan setelah dirasa kalau ketupatnya sudah turun ke perut, lalu saya bergegas meninggalkan PAI yang makin keren ini. Saya harap semoga makin keren dan para pengunjung  juga selalu menjaga kebersihan karena setelah saya amati ternyata banyak juga tong-tong sampah dipinggir bibir pantai. Tujuannya biar para pengunjung tidak buang sampah sembarangan lagi yang selalu menjadikan alasan kalau tong sampahnya jauh, dan kali ini gak ada alasan lagi buat buang sampah pada tempatnya.
 
Sekian dari Pantai Alam Indah.

eh.. Tunggu dulu.
Di Pantai Alam Indah juga ada Museum Baharinya yang sering dijadikan objek foto dan selalu ramai dikunjungi beberapa keluarga yang ingin mengenalkan jenis-jenis kendaraan perang Negara kita pada masa dulu.



Semoga dilain waktu saya bisa sepedaan yang lebih jauh lagi dari ini, bila perlu piknik sambil sepedaan kayaknya seru. Dan sepulang dari PAI  saya sengaja lewat jalan lain untuk pulang yaitu lewat jalur pantura. Setelah jalan beberapa meter rasanya ngeri-ngeri sedap sepedaan dijalur pantura karena memang tidak diperuntukan untuk pesepeda. Akhirnya sebelum saya kena hempasan manja dari para raja jalanan saya kembali kejalan semula sewaktu berangkat tadi dan Alkhamdulillah selamat sampai rumah.



Baca Juga :

Senin, 28 Agustus 2017

Mencari Titik Tertinggi di Obyek Wisata Cacaban

Seminggu setelah lebaran kemarin, saya bersama kawan lama (teman SMP) baru sempat kumpul bareng setelah sekian hari tertunda-tunda karena banyaknya acara keluarga yang harus kita jalani. Barulah di malam minggu pertama setelah lebaran kita kumpul di rumah Jahid.

Hal pertama yang kita bahas tentu mengenai fisik kita, ada yang masih kurus-kurus aja, ada yang makin gempal seperti saya, ada yang sudah pake kacamata dan lain-lain. Lalu hal kedua yang kita bahas adalah kabar teman-teman yang lain yang katanya ada yang sudah punya anak, baru menikah, mau menikah, baru pacaran dan ada juga yang masih jomblo sejak SMP sampe sekarang termasuk Jahid si tuan rumah. Terakhir membahas kenangan kita seperti saya habis naik gunung, lalu Sofi baru pulang habis kerja 3 tahun di Korea, dan terakhir Budi yang cerita habis mencari burung di beberapa bukit yang ada di sekitar Waduk Cacaban. Saat itu Budi keliling naik-turun bukit yang ada di Cacaban. Dan ada satu titik tertinggi dimana kalau berdiri disitu kita dapat melihat PG. Pangkah (PG : Pabrik Gula) yang jaraknya lumayan jauh dari Cacaban serta pemandangan sawah-sawah yang hijau indah memukau mata. Karena di titik tersebut tidak ada pohon sama sekali sehingga pemandangan didepan sangat menakjubkan.

Karena rasa penasaran seperti yang diceritakan Budi itulah yang membawa kita untuk ke Cacaban dan mencari titik tertinggi yang Budi sebutkan tadi.

Kemudian saya mengusulkan untuk ke Cacaban naik sepeda biar sekalian olahraga. Tapi hanya 2 anak saja yang setuju naik sepeda ke Cacaban selain saya, sisanya males capek mungkin, makanya naik motor. Dan ditentukanlah hari dan semuanya sepakat besok pagi setelah shalat subuh kita jalan ke Cacaban.

Lalu kita semua pulang untuk mempersiapkan besok.


~~sk~~

Tidak sedikit yang membatalkan untuk ikut ke Cacaban, dengan alasan kerjaan dan masih banyaknya acara keluarga menjadi penghalang kita untuk jalan-jalan sekaligus reuni kecil-kecilan alumni SMP Muhammadiyah Kec. Pangkah, Tegal, angkatan 2007.

Setelah semuanya berkumpul (kecuali yang tidak ikut) ditempat yang sudah dijanjikan, kita langsung jalan dengan kecepatan santai 20km/jam, karena yang naik motor juga menyesuaikan kita-kita yang naik sepeda.

Hasilnya setengah jam lebih dikit kita baru sampai di gerbang wisata Waduk Cacaban.

Pasca libur lebaran, tiket masuk ke OW Waduk Cacaban naik seribu (jadi Rp. 3.500).  

Selesai motor di parkirkan, kita tidak langsung naik-naik bukit terlebih dulu, tapi jalan-jalan disekitaran waduknya yang keren banget kalau pagi-pagi.


Kita liat satu-persatu perahu yang dibuat untuk pengunjung mulai pergi dengan membawa belasan pengunjung didalamnya. Kalau saya perhatikan mimik muka para pengunjung sangat beragam, ada yang seneng sambil selfie, ada juga pengunjung yang ekspresi mukanya kayak orang ketakutan gitu. Saya rasa aman sih perahunya, kayu-kayunya juga masih kokoh pas saya amati. Cuma keamanannya yang masih kurang, karena tiap perahu hanya ada 4 ban pelampung dan 2 pelampung rompi saja. Gak sebanding dengan belasan pengunjung yang naik perahu tersebut. Mungkin keterbatasan tempat sehingga mengurangi jumlah ban pelampungnya.


Bosan melihat pemandangan waduknya, kemudian kita jalan-jalan dipunggungan waduknya. Suasananya juga cukup ramai dan banyak spot-spot menarik buat dijadikan objek foto.

Gak terasa kita jalan sudah sampai di sungai yang banyak batu-batu cukup besar. Setelah itu kita mulai naik bukit satu-persatu. Tapi cuma bertiga doang, yang lainnya sudah sangat kelelahan. 

"Dibukit yang mana ya yang pemandangannya keren" tanya Budi. Anak yang paling pengin banget nostalgia ke tempat yang dulu dia bilang keren.

"Mana saya tau bud" jawab saya. "Kan situ yang pernah kesini"

"Kayaknya sebelah sana" kata Ale sambil nunjuk ke bukit yang lokasinya berada di loket masuk kedua. Memang tempatnya lebih tinggi.

Kemudian kita kesana.

Sesampainya disana, ternyata sama ramainya kayak di Waduknya banyak pengunjung. Ada rumah pohonnya juga yang saya pikir mungkin ini titik tertinggi di Cacaban. Tapi kata Budi masih belum, karena pemandangannya biasa. Padahal menurut saya keren banget loh. Kayak di foto ini.


Kemudian kita turun dari rumah pohon dan naik bukit lagi. Kali ini bukan di tempat-tempat yang banyak pengunjung, bahkan gak ada jalannya juga. Semuanya tertutup sama rumput-rumput yang sepertinya hampir tidak pernah ada orang yang lewat situ. Tapi tetep aja si Budi maksa naik sambil bilang di atas aja ada pohon pisang, pasti ada orang yang pernah naik ke bukit ini. Sebuah filosofi yang memaksa. Sedangkan saya dan Ale cuma ngikutin aja di belakang.


Sesampainya diatas kata Budi masih bukan bukit yang dia inginkan.

Saya cuma bengong sambil bertanya sendiri dalam hati "Terus dimana letaknya?"

"Ayo turun lagi" kata Budi.

Kemudian kita jalan ke tempat yang sangat tersembunyi mungkin di daerah situ karena bener-bener sunyi, gak denger suara pengunjung yang lainnya. Kalau tadi sih kita masih denger hiruk-pikuk suara anak-anak.

"Kayaknya ini bukitnya deh" kata Budi tapi masih kayaknya...

"Kayaknya bukan deh" jawab saya

"Masa sih?"

"Gak ada jalannya bud"

"Jalan mah bisa dibuat sendiri" lanjut Budi.

Bukit yang akan kita naiki ini lebih rimbun pohonnya, rumputnya juga tinggi-tinggi banget, dan yang paling gila kita asal jalan aja kayak seolah-olah jalanan aspal didepan, padahal kaki saya beberapa kali tertusuk duri-duri kecil.


"Iya yah bukan disini"

"Kan saya bilang juga apa" jawab saya tapi dalam hati.

Kemudian kita turun lagi dengan berbagai macam duri yang menempel di celana saya.

"Oh iya bukitnya di sebrang sana kayaknya deh" tunjuk Budi ke bukit yang ada di sebrang sungai yang pas awal tadi kita berenam duduk-duduk. Tapi masih kayaknya...

"Eh bud. Maaf nih saya udah ada janji anter adik saya beli hape" alasan saya biar gak balik lagi ke bukit yang didekat sungai tersebut karena jaraknya lumayan jauh sekitar 2 atau 3 km dengan kondisi jalan naik-turun. Dan saya juga yakin nanti pas udah diatas juga pasti Budi bakalan bilang "kayaknya bukan disini deh". Saya dan Ale di ajak muter-muter sebenernya bukan karena keegoisannya Budi yang pengin liat pemandangan paling keren di atas bukit, tapi saya juga pengin liat. Cuman yang kita cari adalah sebuah bukit dengan pemandangan keren tanpa ada pohon satupun dan itu yang Budi lihat 10tahun lalu. Saya tau pas Budi cerita dulu kesininya 10tahun yang lalu bareng bapaknya dia untuk berburu burung. Sudah jelaslah pasti tempat tersebut sudah berubah bentukannya.

Padahal ya tadi juga ada pemandangan keren bahkan PG. Pangkah juga keliatan. Tapi Budi penginnya pemandangan yang kayak dulu, itu kan susah. Tapi sisi baiknya kita jadi banyak waktu buat ngobrol bareng, jalan bareng, dan sarapan bareng. Sedikit bernostalgia di Waduk Cacaban tapi mampu membuka pintu selebar-lebarnya pintu kenangan kita di masa sekolah. Semoga kalian makin sukses.


Demikianlah pencarian titik tertinggi di Waduk Cacaban yang akhirnya tidak sesuai keinginan Budi, bisa juga keinginan saya, karena saya juga berharap ada pemandangan yang lebih waow lagi. Tapi ini masih jadi misteri.

Minggu, 06 Agustus 2017

Tips Mendaki Gunung Bagi Orang Gendut VERSI Blog Sering-Keluyuran.

 
Sebagai orang gendut yang berat badannya lebih dari 85kg, kadang suka menyerah sebelum bertindak seperti ketika saya liat temen ngepost foto dengan latar belakang pemandangan alam yang keren banget, begitu ditanya mengenai foto tersebut diambil dimana, saya langsung sedih kalau jawabannya adalah di Danau Ranukumbolo yang letaknya di Gunung Semeru, atau di Segara Anak di Gunung Rinjani misalkan. Karena saya atau kita sebagai orang gendut akan mikir lima kali (kalau mikir cuma dua kali masih kurang) untuk menjajal naik gunung atau tidak. Karena mendaki gunung adalah sebuah kegiatan alam yang bukan hanya sekedar jalan-jalan saja, tapi kita juga harus punya ketahanan fisik dan tenaga yang kuat, karena mendaki gunung termasuk olahraga cukup ekstrim. Nah... saya main futsal baru 5 menit aja sudah engap. Tapi dengan tekad saya yang ingin sekali mendaki gunung dan memandang keindahan dari atas gunung, membuat saya berjuang gimana caranya supaya orang gendut juga bisa!. Maka inilah 15 tips mendaki gunung bagi orang gendut. Semoga bermanfaat.
 
1. Olahraga dong!
 
Pict By : CheritaHati - WordPress.com
Kalau orang-orang bilang sebelum mendaki itu harus olahraga maksimal seminggu sebelum mendaki. Itu benar, tapi untuk orang kurus, sedangkan bagi yang gendut minimal satu bulan full kita olahraga, tujuannya selain agar fisik makin kuat, berat badan juga makin turun. Jadi pas nanti mendaki badan kita tuh gak gendut-gendut amat. Jenis olahraganya jangan catur, itumah sama aja, tapi sering-sering lah godain istri orang, nanti pastinya si suami gak trima dan bakal ngejar-ngejar kita. Disitulah letak suksesnya membakar kalori yang banyak, karena kalau cuma lari-lari biasa paling keringatnya dikit yang keluar, tapi kalau lari sambil dikejar orang pasti keringatnya sebiji jagung walopun larinya cuma sebentar.
 
2. Jangan Baper.
 
Pict By : Vemale.com
Orang gendut itu sedikit lebih baper. Liat semut mati aja merasa kasihan yang teramat sangat mendalam dan jadi perasaan, apalagi kalau punya pacar yang ditinggal buat pergi misalkan, pasti kepikirannya sama si pacar terus, mikirin apakah dia sudah makan, apakah sudah minum setelah makan. Jadi sebisa mungkin seminggu sebelum mendaki putusin aja dulu pacar kita sambil bilang supaya pikiran tenang saat mendaki. Kalau emang sayang, pasti pacarnya itu ngertiin. Malahan seneng, karena dia bisa jalan dengan cowok yang badannya lebih cool. Tapi yang penting sukses mendakinya.
 
3. Ajak teman.
 
 
Untuk mendaki gunung, kita pasti akan membutuhkan orang lain, entah itu untuk untuk penyemangat, bawain tas kalo kita memang sudah sangat lelah, bisa juga untuk temen ngobrol. Jangan mentang-mentang habis nonton film 5cm terus bilang sudah pengalaman mendaki gunung, padahal cuma nonton film.
 
9. Sewa Guide/Porter.
 
Pict By : Jalan Setapak Adventure - WordPress.com
Waktu mendaki Sindoro kemarin, dengan senang hati saya menerima pertolongan dari Mas Galih untuk membawakan cerrier saya. Yaiyalah... yang gak seneng yang bawain cerrier. Tapi nyatanya Mas Galih gak ada raut wajah nyesel, karena emang ini udah bagian dari pekerjaannya. Jadi sah-sah saja kalau kita pengin mendaki dengan sedikit beban saja yang kita bawa. Konsekuensinya ya kita keluar duit banyak buat bayar tenaganya orang lain.
 
10. "Jangan Tinggalin Aku ya..."
 
 
Kalimat tersebut juga termasuk tips mendaki gunung buat orang gendut. Karena orang gendut itu langkahnya pelan kayak siput mungkin, gak selincah kancil. Jadi sebelum mendaki baik bareng temen atau sewa Guide usahakan kita mengingatkan mereka untuk tidak ninggalin kita.
 
14. Bawa makanan di kantong.
 
 
Makanan adalah teman hidupnya orang gendut. Karena orang gendut kalau gak sambil ngemil bisa kehilangan gairahnya. Seperti yang saya alami kemarin di Sindoro, gegara gak makan pas mau turun, kondisi badan makin gak karu-karuan. Makanya nanti kalau mendaki lagi saya bakal ngantongin coklat di saku kiri, roti di saku kanan, lalu bawa tas kecil yan didalamnya sudah ada gorengan.
 
15. Dan tips terakhir yang paling penting yang akan saya kasih adalah NIAT.
 
 
Percuma juga kita ngikutin tips ini dari awal tapi ternyata kita gak niat buat mendaki. Mending dirumah main Playstation sambil makan mie ayam+bakso, minumnya es campur. Jadi sebelum mendaki kita mantapkan dulu niat kita.
 
~~sk~~
 
Begitulah sekelumit tips mendaki gunung untuk orang gendut yang saya tau. Semoga bermanfaat dan pulang juga dengan selamat membawa foto terbaiknya yang kita ambil di atas gunung.
 
Mulai sekarang stop diskriminasi orang gendut, karena orang gendut juga manusia, dan setiap manusia pasti ingin melihat pemandangan yang indah. Maka bantulah kami wahai para pendaki yang berpengalaman apabila sedang kesusahan dalam mendaki gunung. Sedangkan kalian para orang gendut yang berhasil naik gunung lalu pamerin fotonya di sosmed, jangan takut kalau ada orang yang gak percaya kita naik gunung. Bilang aja "Naik pelaminan aja bisa, apalagi naik gunung".


Baca juga :
Tengah Malam Mendaki G. Sindoro
Mendaki G. Prau Bareng Keluarga Sering Keluyuran
Di Paksa Naik Bukit Batu Agung